 | Definisi | Aug 31, 2005 |
Penyakit bawaan sejak lahir yang muncul di suatu titik tertentu kehidupan manusia dengan gejala sebagai berikut : 1. Keinginan berlebih untuk menyampaikan segala sesuatu dalam bentuk kalimat tertulis 2. Keinginan tersebut tidak bisa ditahan terlalu lama 3. Komputer-philia (terutama Ms. Word) 4. Buku-Philia 5. Pada orang tertentu, Bloggingistis juga menjadi suatu gejala Catatan di atas hanyalah fiksi belaka yang menggambarkan sedikit diri saya yang suka menulis. Saya menulis apa saja... Sayangnya, belum pernah ada yang dipublikasikan oleh pihak berwenang. Di sinilah saya bisa mempublikasikan tulisan-tulisan saya. Hari-hari saya, kegiatan, pikiran, keluhan, tantangan pada diri saya sendiri, komitmen, ide-ide baru, hal-hal konyol... Mungkin itu kata kunci yang bisa masuk di dalam blog saya ini. Sit down and relax... Enjoy yourself! Glek... Ya Tuhan... saya baru sadar, isi blog ini suram betul, sesuram penjara (emang saya pernah ke penjara?)
Baru saja saya berjanji pada diri saya sendiri untuk mulai mengubah blog ini menjadi sesuatu yang lebih... ceria. Saya tidak tahu ceria itu seperti apa, but anyway... akan saya mulai dengan mengubah layot blog ini dari hitam menjadi warna-warna cerah.
Ya ampun... kenapa sih selama ini saya tahan dengan warna gelap dan suasana melankolis yang miris-miris gitu? Ah, tapi memang saya sering terbawa dengan suasana hati dan sering membawa suasana hati itu ke tulisan. Jadinya, banyak banget tulisan yang suasananya suram dan kelam.
Ditambah lagi, mungkin saya akan mengubah konsep blog ini. Masih perlu berpikir tentang hal ini. This one is a happy story
---
Di sebuah desa kecil, seekor ayam betina bertelur di dalam sangkarnya. Telur-telur itu cantik, berwarna putih seputih tepung dan kuat sekuat batu. Ayam betina itu menyayangi telur-telurnya dan mengeraminya selama 21 hari.
Di hari yang kedua puluh satu, satu persatu telur itu menetaskan anak-anak ayam berbulu kuning lembut. Satu persatu anak-anak ayam itu meloncat dari dalam tumpukan jerami tempat mereka menetas dan mulai bercericip riang.
Tapi lihatlah! Di dalam sangkar itu masih ada sebuah telur yang belum menetas. Induk ayam itu khawatir terhadap telur terakhirnya. Sehari, dua hari dia menunggu. Tapi telur itu belum menetas juga. Tiga hari, empat hari dia menunggu, tapi telur itu tidak kunjung menetas.
Sesudah seminggu induk ayam itu menunggu telurnya untuk menetas, dia tidak sabar lagi dan berteriak sekeras-kerasnya: "Anakku! Keluarlah!"
Sekejap kemudian telur itu mulai bergetar! Krak! Krak! Dua buah kaki mungil muncul dari dalam telur. krak! Sepasang mata hitam terlihat dari lubang kulit telur yang tercuil.
"Aku tidak mau keluar dari dalam telur!!" Si telur berteriak, membalas ibunya dengan nada ketakutan. "Aku takut aku akan hancur berkeping-keping kalau aku keluar dari dalam telurku!"
Setahun, dua tahun berlalu. Sanak saudara si telur mulai tumbuh besar dan sehat. Yang jantan berdiri dengan jangkungnya, bermahkota merah semerah darah dan mata mereka tajam. Yang betina terlihat anggun dengan warna kecokelatan yang mewah. Telur itu selalu menghabiskan waktunya berjalan berkeliling, melihat dunia luar dari balik kulit telur.
"Kau tidak ingin memiliki tubuh seperti ini, saudaraku?" tanya seekor ayam jantan yang memamerkan badannya yang besar.
Telur kecil itu menggelengkan kepalanya, mengatakan bahwa dia tidak mau memiliki tubuh yang besar. Dia masih percaya bahwa dia akan hancur berkeping-keping kalau dia keluar dari dalam telurnya.
"kapan kau akan keluar dari telurmu, nak?" tanya induk ayam yang masih saja berharap telur kecilnya menetas. Telur itu menggeleng bahwa dia tidak akan keluar dari dalam telurnya.
Suatu hari yang cerah, si telur melihat sanak saudaranya sedang berjalan berkeliling desa. Mereka berlenggak-lenggok dengan anggunnya, membuat si telur iri. Apalagi waktu dia melihat bahwa semua orang menyukai sanak saudaranya karena mereka memang cantik dan gagah.
Si telur mulai ragu. "Apa aku bisa menjadi secantik mereka? Apa aku tidak akan hancur berkeping-keping?"
Si telur merenung dan menemui sahabatnya, seekor kura-kura yang sudah sangat tua yang suka duduk di pinggir sungai. Kura-kura itu terkekeh saat dia mendengar cerita si telur, dan berkata dengan bijak: "Kau tidak akan tahu kalau kau tidak membuka kulitmu, bukan?"
Si telur menundukkan kepalanya dan si kura-kura berkata lagi: "Aku yang akan melindungimu dengan cangkangku kalau terjadi apa-apa denganmu. Jadi, cobalah!"
Si telur mendongak dan mengangguk dengan sedikit ragu, tapi dipenuhi dengan harapan kecil di matanya.
Dia mendesak dan mendorong, menjejak dan menekan, sampai seluruh kulit yang menutupinya hancur. Kura-kura itu terkekeh dan menutup hidungnya saat si telur keluar.
"Aku rasa, kau harus mandi dulu di sungai, sebelum kau bertemu orang-orang... Walaupun kau terlihat gagah sekarang, kau berbau busuk..."
Saat si telur memasuki air, betapa dia terkejut karena yang dilihatnya adalah seekor ayam jantan yang tinggi dan besar, dengan mahkota merah di kepalanya. Kakinya yang besar dan gagah memasuki sungai dan dia mandi sampai bersih karena kulit telur tadi memang sudah membusuk di dalam karena lamanya dia tidak keluar.
"Lihatlah, kau tidak hancur, kau tidak buruk rupa, kau tidak mati," ujar si kura-kura terkekeh sekali lagi. "Kau bersih, kau gagah!! Tentu saja setelah kau mandi dan bersih..." I just started to realize something weird today. I said that i do like writing. But is that the real thing? Or I'm just running away from my problem by saying that i like writing and want to do that for living?
Yang membuat saya berpikir seperti itu adalah sebuah pesan pendek dari adik saya. Dia memberikan waktunya untuk merevisi novel saya. Jadi saya mengerjakannya malam ini. Tadi dia mengirim pesan, katanya kalau capek nggak usah dipaksain. Saat itu saya nyaris mengetik balik seperti ini : "Daripada saya stress mikirin kerjaan, mendingan ngerjain novel."
Saat itu saya tersentak dan menghentikan jemari saya. Saya berpikir sejenak, apakah saya ini sebenarnya sedang melarikan diri?
Kalau ingin kata kerennya sih, saya sedang bayar harga. Kalau ingin sesuatu, ya harus berani bayar harga dong. Karena itu, saya ingin jadi penulis, padahal saya sekarang kerja di bidang lain, ya saya harus bayar harga. Kerja di siang hari dan di malam harinya mulai mengerjakan tulisan saya. Simple.
I want to believe that i am now doing the later rather than the former.
Kalau saya hanya melarikan diri, berarti tidak akan ada sesuatu yang bisa saya dapatkan dari tindakan saya kali ini. Tapi kalau saya sedang bayar harga, berarti akan ada sesuatu yang lebih berharga yang akan datang nanti setelah semuanya lunas saya bayar.
I think i have to start to believe on something.  | My real | Jan 21, '12 10:04 PM for everyone |
 | The Egg | Dec 5, '11 8:00 AM for everyone |
This is not a happy-ending story. --
Di sebuah desa kecil, seekor ayam betina bertelur di dalam sangkarnya. Telur-telur itu cantik, berwarna putih seputih tepung dan kuat sekuat batu. Ayam betina itu menyayangi telur-telurnya dan mengeraminya selama 21 hari.
Di hari yang kedua puluh satu, satu persatu telur itu menetaskan anak-anak ayam berbulu kuning lembut. Satu persatu anak-anak ayam itu meloncat dari dalam tumpukan jerami tempat mereka menetas dan mulai bercericip riang.
Tapi lihatlah! Di dalam sangkar itu masih ada sebuah telur yang belum menetas. Induk ayam itu khawatir terhadap telur terakhirnya. Sehari, dua hari dia menunggu. Tapi telur itu belum menetas juga. Tiga hari, empat hari dia menunggu, tapi telur itu tidak kunjung menetas.
Sesudah seminggu induk ayam itu menunggu telurnya untuk menetas, dia tidak sabar lagi dan berteriak sekeras-kerasnya: "Anakku! Keluarlah!"
Sekejap kemudian telur itu mulai bergetar! Krak! Krak! Dua buah kaki mungil muncul dari dalam telur. krak! Sepasang mata hitam terlihat dari lubang kulit telur yang tercuil.
"Aku tidak mau keluar dari dalam telur!!" Si telur berteriak, membalas ibunya dengan nada ketakutan. "Aku takut aku akan hancur berkeping-keping kalau aku keluar dari dalam telurku!"
Setahun, dua tahun berlalu. Sanak saudara si telur mulai tumbuh besar dan sehat. Yang jantang berdiri dengan jangkungnya, bermahkota merah semerah darah dan mata mereka tajam. Yang betina terlihat anggun dengan warna kecokelatan yang mewah. Telur itu selalu menghabiskan waktunya berjalan berkeliling, melihat dunia luar dari balik kulit telur.
"Kau tidak ingin memiliki tubuh seperti ini, saudaraku?" tanya seekor ayam jantan yang memamerkan badannya yang besar.
Telur kecil itu menggelengkan kepalanya, mengatakan bahwa dia tidak mau memiliki tubuh yang besar. Dia masih percaya bahwa dia akan hancur berkeping-keping kalau dia keluar dari dalam telurnya.
"kapan kau akan keluar dari telurmu, nak?" tanya induk ayam yang masih saja berharap telur kecilnya menetas. Telur itu menggeleng bahwa dia tidak akan keluar dari dalam telurnya.
Suatu hari yang cerah, si telur melihat sanak saudaranya sedang berjalan berkeliling desa. Mereka berlenggak-lenggok dengan anggunnya, membuat si telur iri. Apalagi waktu dia melihat bahwa semua orang menyukai sanak saudaranya karena mereka memang cantik dan gagah.
Si telur mulai ragu. "Apa aku bisa menjadi secantik mereka? Apa aku tidak akan hancur berkeping-keping?"
Sambil membulatkan tekad, si telur mulai mendesak telurnya. Kulit telur itu mulai berderak-derak dan retak-retak di sana-sini. Si telur dipenuhi dengan harapan bahwa dia akan menjadi cantik atau gagah seperti sanak saudaranya yang baru saja dia lihat. Dalam waktu sekejap saja si telur sudah membuka cangkangnya!!
Tapi lihatlah! Ciumlah!!
Orang-orang mulai menutup hidung mereka. Mereka menuding si telur dengan tatapan mata jijik. Mulut mereka mencibir dan pandangan mata mereka meremehkan.
"Dia menjijikkan!" "Dia bau!" "Dia monster! Apa itu?"
Si telur yang akhirnya sadar bahwa dia yang sedang diejek menjadi sangat kecewa. Dia menjatuhkan dirinya tepat di atas kulit telurnya yang tajam, menyobek lehernya sendiri dan dia mati. Sebelum dia mati, dia berkata: "Tidak seharusnya aku membuka kulitku." In a far away land, there once lived an ordinary boy. The boy always dreaming that someday he will get a lot of friends around him and live a happy life. But, he was a very shy boy and he will not show up his face to his friends. He always wear a mask every time he goes out from his house, for he think that his friends would run away seeing his ugly face. So his friends think that he is a weird person and do not want to be with this boy.
Then the boy told himself : "I will have many, many friends once i have a fair face. Until then, i will keep the mask."
Then the boy did what he can do to make his face fair. He went home straight after the school is over, and do not want to go out on weekends, jus because he need to care for his face. He wash his face every morning and night before he sleep. And day by day, his face getting fairer and fairer, then he took away his mask.
But alas, it doesn't work!
There is no friends around him, and he found himself all alone.
Then the boy told himself : "If i can do some sport, then i can have friends."
Then the boy did what he can do to be good at sport. He went home straight after the school is over, and do not want to go out on weekends, just because he need to practice by himself. He throws ball on a wall and catch it again, dribbling the ball and even do some back jump and some athletic moves. And then he ready to make friends, so he went out one day.
But alas, it doesn't work again!
There is no friends around him, and he found himself all alone.
Then the boy who had become a man told himself : "If i can play music, then i can have friends."
Then the man did what he can do to be good at music. He went straight home after work is over and do not want to go out on weekends. He plays his piano and cello and violin and guitar every day and night. He plays very well and very fair until birds and butterflies flying around him every time he plays his instrument. So the man told himself that he is ready to make friend.
but alas! again and again it doesn't work for he found himself all alone.
then the man who had become an old man told himself : "If i can be rich, then i can have friends." 
So the old man doesn't not care for his face, or sports or music anymore. He work and work and work everyday and night for money, then he eventually become very rich. But now, he is very old and what he can do is lying on his bed, mourning alone.
Then the old man told himself : "What have i done wrong? What else do i need to have friends?"
A swallow who just enter the room heard the question, and answered the old man with another question : "If you want to have friends, why did you spend your time on another things?"
Then the old man died on his bed without anyone on his side. This is the thing that i realize nowadays, that we are human just like the moon, that hanging in the sky beautifully. I remember in Genesis that God created moon to be the light for the night time. And i believe that is what we should do, everyone of us no matter what our religion is, no matter what our race is, we should be the light.
When i was in the elementary school, i remember my science class. They taught me that moon cannot shine by itself. The moon will always need another light to lit up the night. The moon need the sun.
so, what is my sun?
i believe that sun here represent a good relationship with others. I am writing this not because i am already have a good relationship, but because i realize that my relationship with others hasnt been good enough. I need to breakthrough walls and pushing myself to put myself on a relationship with others. So yeah, back to the point. Relationship, wether it is in the office or school or wherever we are, is always effecting us.
Be a member of the most coolest guys in the school will makes you want to dress like one of them. Be the member of the clever guys will makes you crazy when you understand E=MC^2 (i never understand this law). What our surrounding is, that's what we are. If our surrounding are grumps, we will be a grump.
So, now you're thinking that i am writing as if the sun doesn't always good. I realize nowadays that actually we can choose our sun. We can choose wether we want it to be surrounded by a bright sun or a dark sun.
I know that sometimes, being dark and gloomy and having pity-party about ourself feel so good.we want other to care about us, to ask about how are we doing, to help us and to give their attention to us. Well... at least that is what i feel when i am all gloomy and pity-partying.
But now, try to think about this. If we care for others, will not others care for us too? If we have our heart towards other and willing to help without an expectation of return, then they will also help us. And i found it with a plus! A very good feeling. I mean Goooood feeling! Even though they don't pay us back, we have out payback already. A good feeling and a foundation into a good relationship.
What i am trying to say here is that we can actually choose and create our surrounding. Creating a sun with a weak ray of a moon seems impossible, but thats the way i found it. Be the light, and the others will be lights--not light, but lightS, multiple form-- that will make us shine even more brighter to create another light!
have a good week!!
P.S. i wrote this draft 2 weeks ago, and today my leader said the same thing. We are just like the moon. And the perfect sun (i am not referring to surrounding and people around us) is God and His words. Aaaaah... what a nice thought that God is always there to make us shine! In a river, there once lived an almighty fish. He is so big and fierce that no fish can match him in a fight, and all fishes in the river appointed him as a king of the river. The fish was so cruel that he doesn't allow anybody to drink from his river. Even the other fish have to bring golds if they want to life and drink.
One day, when the fish was wandering near the river bank, a very vast land catches his eyes and he said to himself: "if only i have legs, i would jump out of this river and be the king of the land too." But of course he doesn't have legs, so he can only watch the vast land with envy. Then he went home with his mind full with the thought.
After a week wondering about being a king of the land, the fish once again visited the river bank. But that day, a lion was drinking from the river. Then the fish comes up with an idea to have the lion's legs, so he said: "You should not drink from the river, because i am the king of the river, and the river is mine!!"
The lion stopped drinking and glaring at the fish, then he thought: "If i can kill the king of the river, then i will be the king of the river too." Because the lion was the king of the vast land.
"I am so sorry because i did not know that this river is yours. I am just a wanderer who thirst and wanted some water to drink," said the lion. Then the fish told him: "If you give me your leg, then i will forgive you and let you go."
The lion finally gave his legs to the fish and the fish jump out of the river joyfully. He began to walk around the land and start to conquer. He first fight a mice, then a cat, then a dog. The mice, the cat and the dog was falling to their knees and appoint the fish as their king, but they did not like the fish because the fish is so cruel. They were wondering where is the lion.
"I take the lions legs and left him by the riverbank," said the fish when the dog asked him about the lion. Then the fish ask the dog: "How can i be the king of the land? Who is the king of this land?"
Then the dog said upon his anger and he wanted to trick the fish: "The king is the snake. He dwells in a dark cave near the hill." The dog lied because the snake is the smartest creature in the land. The snake is also a loyal minister of the lion. After the fish fallen asleep, the cat running to the hill to announce the news to the snake. The snake was very angry too and want to put the fish down. The mice ran to the riverbank where the lion sitting down without a leg and bring him foods.
The day after, The dog take the fish to the hill and the fish shout out loud: "Snake, come out, because i want to put you down from your throne!"
The snake who knew the fish will come did not come out, but rather sneak up from behind, then eat the fish with one blow. So the fish was put to an end.
The dog and the cat bring the legs back to their king and the lion was made the king of the river and all of the creature from the land was now allowed to drink from the river and lived happily with the lion as their king for a good long time. sudah lama sekali saya tidak post di blog yang satu ini. Dengan adanya twitter dan Facebook yang penggunaannya lumayan simple, saya jadi malas menulis blog yang panjang dan lebar. tapi setidaknya, saya masih belum melupakan betapa saya suka menulis. Well... tetap saja saya masih menganggap diri saya tidak punya sense sama sekali dalan tulis menulis. haha.
cuek lah.
okay, perubahan paling besar dalam diri saya saat ini adalah ini : saya sekarang sudah kerja! Akhirnya setelah tujuh tahun saya belajar dan belajar, akhirnya saya bekerja juga di perusahaan Jepang.
Saya tidak mau mengungkit-ungkit nama perusahaan saya di sini. Saya hanya ingin menjelaskan seperti apa perusahaan tempat saya bekerja ini. Jumlah karyawan 10ribu orang lebih. Bekerja di bidang Information Technology. Sekitar setahun yang lalu baru saja lahir karena mergernya dua perusahaan.
God! Kerja!
Satu-satunya pertanyaan yang tersisa adalah ini : buat apa sih saya kerja?
Banyak banget masukan yang saya dengar, banyak pendapat yang saya terima dari orang lain. Tapi tetap saja saya masih gak ngeh dengan kerjaan. Kalo cuman pingin duitnya, tinggal kerja serabutan, kerja magang, apapun. Tanggung jawabnya juga kecil, gak perlu nanggung tanggung jawab yang super gede seperti yang bakal saya lakukan mulai sekarang.
Ya Tuhan... IT di sebuah perusahaan sekarang seperti nyawa perusahaan! Tanpa email, tanpa informasi pasar, tanpa istem yang ngatur karyawan, bisa apa perusahaan? Dan saya (suatu hari sih, bukan sekarang) harus nanggung itu semua!! (Well... sekarang saja saya harus membuat graph tentang sebuah proyek yang harganya nyaris 1 miliar yen!!)
Plus... you dunno how Japanese can be sooooo Workaholic! Senior says bilang dia keluar dari pintu perusahaan jam 12 malam, sampan di rumah jam 1 malam, tidur jam 2 malam dan harus kembali ke perusahaan jam 9 pagi. Aku bilang, Gila!!
Okay, you may say : Stop complaining and do it!
Gosh!! I am doing it!! At least let me complain, okay?! 1. Januari
Lanjutan job hunting yang serasa gak akan pernah selesai. Tulis resume sebanyak yang saya bisa, kunjungi perusahaan sebanyak yang saya bisa.
Thank God saya sehat dan sama sekali gak masuk angin meskipun udara di luar sama hampir 0 derajat. Thank God gak ada kecelakaan yang membuat kaki saya patah.
2. Februari
Masih lanjutan Job hunting, mulai wawancara di sana sini, hampir tiap hari keluar masuk kereta. Pergi ke Tokyo.
Thank God saya tidak jadi gila karena penolakan dari berbagai macam perusahaan.
3. Maret
Job Hunting still goes on. Masih wawancara di sana-sini sambil tulis resume baru gara-gara banyak perusahaan yang menolak saya.
Thank God saya menemukan job hunting advisor di kota sekecil ini.
4. April
Job hunting. Wawancara tahap akhir. Sempat masuk angin. Terpaksa pergi wawancara dengan kepala pusing dan meriang dikit.
Thank God saya gak ambruk di dalam kereta. Lebih thanks lagi karena saya lolos wawancara itu dalam keadaan meriang!
5. Mei
Job hunting selesai! Saya dapet permission buat masuk ke perusahaan!! YES!!
Tambahan lagi ada persiapan live di gereja. cek-cok sana-sini, perang mental sana-sini.
Thank God saya bisa kerja! Thank God saya bisa belajar leadership dan event orginizing. Thank God saya bisa belajar trusting others
6. Juni ~ Juli
Masih persiapan live ditambah lagi research di laborat. Live bulan Juli.
Thank God saya sehat! Thank God Live di gereja bisa selesai dengan selamat.
7. Agustus
Summer Holiday. Camp gereja buat anak-anak smp dan sma. Akhir Agustus pulang Indo, jalan-jalan bareng senior dan temen. Ketemu sama Papi Mami, ditambah lagi bisa ketemu adik-adik tersayang (I love you guys!)
Thank God saya punya keluarga!!
8. September
Masih Summer Holiday. Akhir september pulang ke Jepang, ditemani badai. Hujan deres banget sampe saya bilang sama diri saya sendiri : "Ini summer apa winter???"
Thank God saya bisa balik ke Jepang dengan selamat!!
9. Oktober
Elijah House Prayer Ministry School di gereja. Pe-er nya itu lho!! Banyak banget!! Sudah gitu harus mikir banyak hal pula!!
Thank God saya bisa mikir banyak hal tentang diri saya sendiri. Especially my relationship with you.
10. November
Christmas is Coming!!! Gereja mulai sibuk mempersiapkan natal. ikut bantuin sana-sini.
Thank God saya punya kesehatan.
11. December
Christmas!!!! Happy birthday, dear Jesus!!
Thank God, You throw yourself into this world and make my whole world a new.
sekarang...
Winter holiday... Liburan yang paling saya benci karena everyone can spend their time with their family and i am not!!
hiks... hiks...
pingin pulang Indo! 1. To Liong To Gak seberapa inget apa yang membuat saya suka dengan drama serial silat ini. Sejauh yang aku inget, ceritanya gampang banget dimengerti, di beberapa bagian terlalu mudah untuk ditebak alurnya.
Tapi, saya ingat bagaimana saya menunggu-nunggu setelah pulang sekolah. Bahkan sengaja tidur siang agar waktu berjalan cepat! Hahaha
2. Power Ranger Tiap minggu pagi! Duh... Bahkan setelah saya tahu bahwa Power Ranger itu jiplakan Sentai-Hero nya Japan, saya maih lebih suka power ranger daripada sentai-hero!
3. The Adventure of Sinbad Mungkin drama seri ini yang membuat saya suka dengan fantasi. Sialnya, saya lupa ending nya... bahkan mungkin gak liat... hiks...
4. Ghostbuster Efek Goosebumps. Saya jadi tertarik dengan devils dan segala macem nya.
5. White Snake Legend Kapan hari aku coba cari di youtube. Dan... OMG... setting e gak karu-karuan banget!! Terus, kenapa pas itu suka banget ya???
apa lagi ya?? Kurda put his fingers on my chest and pressed softly down on my heart. "In here is where a man should judge himself, not on bars or in a ring or on a battlefield. If you know in your heart that you're true and brave, that should enough
"... five could have been here tonight, alive and well, had the not have been determined to prove themself to others. They drove themselves to early graves, just so their companion would admire them," He lowered his head and sighed deeply. "It's stupid," he mumbled. "Pointless and sad. And one night it may prove to be the end of us all."
-- Darren Shan Trials of Death, Chapter 8 Bahasa Indonesia itu susah banget yah...
Baru saja saya menyerah menulis blog tentang Job Hunting di Jepang.
I cant find the word for "experience" and "selection"
Saya ini orang Indonesia kan???
Iya kan???
Terus, kenapa saya gak bisa nulis Bahasa Indonesia yang baik dan benar???
Ugh! Saya mendengar frase ini saat saya duduk di kelas 1 SMA. Waktu itu, frase ini terdengar keren banget sampe saya memutuskan untuk menjadikan frase ini sebagai motto hidup saya.
9 tahun lalu, saya mengartikan frase ini sebagai berikut:
"Kerjakan sebaik-baiknya, jangan setengah-setengah. Lebih baik jangan ambil action kalau pengennya kerja setengah-setengah doang."
Nothing wrong with that. Sampe hari Jumat kemaren saat saya konsultasi tentang masalah job hunting. Dia kasih kritik tentang action saya:
Action saya berkata: "Kalo saya suka, saya akan bekerja sebaik-baiknya, kalau ada untungnya buat saya, saya akan bekerja sebaik-baiknya. Sebaliknya, kalo saya gak suka, pegangpun ogah! Kalo saya gak bisa dapet untung dari sana, lirik mata pun ogah."
Dia bilang: "Itu mah melarikan diri! Kalo ada untungnya doang kamu dateng dan kerja sebaik-baiknya, kalo ada ruginya, kamu melarikan diri!!"
Umm...
Jujur, saya masih belum merasakan ada kesalahan. Kalo gak ada untungnya, apa intinya? Kalo ada ruginya, ya kabur dong...
Well... Dia bilang: "youre running away without facing your problem."
Dude! Its just a score on a paper sheet!
LOL.
Mungkin lebih baik saya mengartikan "Do the Best or nothing" sebagai:
"Kerjakan sebaik-baiknya, karena tidak akan ada untungnya bekerja setengah-setengah."
Apa bedanya?? Bikin orang stress.
Mungkin gara-gara target saya terlalu tinggi.
Mungkin juga gara-gara gak ada orang yang support saya di lab.
Mungkin juga gara-gara saya tidak punya "something good" buat di pamerin ke perusahaan.
Terlalu banyak mungkin, mungkin dan mungkin.
Well...
Ada asyiknya juga sih. Apalagi waktu saya membayangkan diri saya sendiri berdiri di sebuah ruangan besar dengan temen-temen satu tim + leader. Bayangkan bahwa tim ini bisa ngerubah sistem sebuah perusahaan jadi sistem yang lebih baik. Berarti tim ini ngerubah "dunia" sebuah perusahaan.
OMG...
I can change the world!
itu sih mimpinya...
but reality is not that sweet...
Jalan masuk ke perusahaannya itu lho... JAUUUUUH!
LOL
| |